KONTRIBUSI PEMBALAJARAN GEOGRAFI TERHADAP NASIONALISME

  1. PENDAHULUAN

Negara Indonesia adalah Negara kepualaun yang sangat luas, dan katanya sangat memiliki sumber daya alam yang melimpah. Negara ini mempunyai luas 7.913.250 km2. dengan jumlah pulau 17.508 buah yang sangat mempunyai potensi untuk dikembangkan malahn sebagian pulau ada yang belum diberi nama taaupun yang belum dijamah oleh manusia boleh dikatakan “virgin island”. Dan dengan jumlah penduduk yang mencapai 240 juta jiwa ini masyarakatnya sangat potensi sekali perlu dikembangkan. Dan juga seni budaya atau “culture of indonesia” sangat banyak sekali, jika kita tata satu persatu tak akan terhafalkan dalam sekian menit ataupun jam.

Sehingga tidak heran jika ada Negara tetangga yang mengklaim budaya Indonesia ini karena kita saja jangan kan mempatenkan atau mengkukuhkan budaya kita, jangan-jangan kita saja tidak tahu dan tak mengenalnya. Jika kita kaitkan dengan nilai atau jiwa nasionalisme, maka sungguh ironis sekali jiwa nasionalisme kita.

Bagaimana caranya, tidak lain yaitu dengan pendidikan. Karena pendidikan diharapkan mampu mencerdaskan kehidupan bangsa  seperti yang tercantum dalam UU Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 tentang tujuan dan fungsi pendidikan nasional adalah: “Pendidikan nasional berfungsi membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,..“

Dengan demikian pendidikan ini dapat dijadika solusi dalam memecahkan masalah nasionalisme pada saat ini. Kementrian pendidikan nasional dan kebudayaan memberikan kebijakan untuk menggintegrasikan nilai karakter budaya bangsa yang salah satunya nilai nasionalisme ke setiap mata pelajaran dan disetiap jenjang pendidikan. Untuk itu mata pelajaran geografi sangat cocok dengan pembelajarannya, karena geografi memiliki fungsi dalam pembentukan nasionalisme. Seperti Maryani mengatakan ”..pengenalan berbagai informasi tempat tinggal umat manusia baik secara global ataupun nasional diperoleh melalui geografi. Cinta tanah air (nasionalisme), rasa persatuan dan kesatuan akan berkembang setelah siswa memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai potensi dan masalah negaranya”

Menurut pendapat tersebut bahwa pembelajaran geografi memberikan kontribusi yaitu pengetahuan dan pemahaman tentang potensi keadaan Indonesia baik secara nasional ataupun didunia pada umumnya.

  1. HAKIKAT DAN NILAI PEMBELAJARAN GEOGRAFI

Pembelajaran dan pengajaran geografi berhubungan dengan kehidupan umat manusi dipermukaan bumi yang berupa kesatuan yang menyeluruh dengan kondisi alamnya. Seperti dikemukakan dalam lokakarya di Semarang (1988) bahwa “Geografi  adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan atau kewilayahan dalam konteks keruangan”

Pada konsep ini geosfer ditinjau dari sudut pandang keruangan dan kewilayahan yang menampakkan persamaan ataupun perbedaan yang tidak terlepas dari relasi keruangan dari unsur-unsur geografi yang membentuknya. Intrelasi dan integrasi keruangan gejala di permukaan bumi dari suatu wilayah ke wilayah lain selalu menunjukkan perbedaan. Hal ini dapat kita kaji sendiri bahwa ciri-ciri umum suatu wilayah dapat membedakan diri dari wilayah lainnya. Ciri umum yang merupakan hasil interelasi, interaksi dan integrasi unsur-unsur wilayah yang bersangkutan, merupakan obyek studi gegrafi yang komprehensif (Sumaatmadja, 1988: 33).

Dengan demikian ruang lingkup disiplin geografi memang sangat luas dan mendasar, seperti yang dikatakan Murphey (1966: 5), mencakup “aspek alamiah” dan “aspek insaniah”, yang kemudian aspek-aspek tersebut dituangkan dalam suatu ruang berdasarkan prinsip-prinsip penyebaran, dan kronologinya. Selanjutnya prinsip relasi ini diterapkan untuk menganalisa hubungan antara masyarakat manusia dengan alam lingkungannya, yang dapat mengungkapkan perbedaan arealnya serta persebaran dalam ruang. Akhirnya prinsip relasi, penyebaran, dan kronologinya pada kajian geografi ini dapat mengungkapkan karakteristik suatu wilayah yang berbeda dengan wilayah lainnya. Dengan demikian terungkaplah adanya region-region yang berbeda antara region satu dengan lainnya. Secara sederhana dapat dikemukakan bahwa cakupan dan peranan geografi itu setidaknya memiliki empat hal, seperti yang dikemukakan dari hasil penelitian UNESCO (1965: 12-35), maupun Lounsbury (1975: 1-6), sebagai berikut:

Pertama, geografi sebagai suatu sintesis. Artinya pembahasan geografi itu pada hakikatnya dapat menjawab substansi pertanyaan-pertanyaan tentang; “what, where, when, why, dan how”. Proses studi semacam itu pada hakikatnya adalah suatu sintesis, karena yang menjadi pokok penelaahan mencakup: apanya yang akan ditelaah, di mana adanya, mengapa demikian, bilamana terjadinya, serta bagaimana melaksanakannya ?

Kedua, geografi sebagai suatu penelaahan gejala dan relasi keruangan. Dalam hal ini geografi berperan sebagai pisau analisis terhadap fenomena-fenomena baik alamiah maupun insaniah. Selain itu dalam geografi juga berperan sebagai suatu kajian yang menelaah tentang relasi, interaksi, bahkan interdependisinya satu aspek tertentu dengan lainnya .

Ketiga, geografi sebagai disiplin tataguna lahan. Di sini titik beratnya pada aspek pemanfaatan atau pendayagunaan ruang geografi yang harus makin ditingkatkan. Sebab, pertumbuhan penduduk yang begitu pesat dewasa ini, menuntut peningkatan sarana yang menunjangnya baik menyangkut kualitas maupun kuantitasnya. Perluasan sarana tersebut, seperti tempat pemukiman, jalan raya, bangunan publik, tempat rekreasi, dan sebagainya, semuanya membutuhkan perencanaan yang lebih cermat dan matang.

Keempat, geografi sebagai bidang ilmu penelitian. Hal ini dimaksudkan agar dua hal bisa tercapai, yaitu: kesatu; meningkatkan pelaksanaan penelitian ilmiah demi disiplin geogafi itu sendiri yang dinamis sesuai dengan kebutuhan pengembangan ilmu yang makin pesat. Oleh karena itu dalam tataran ini perlu dikembangkan lebih jauh tentang struktur ilmu (menyangkut fakta, konsep, generalisasi, dan teori) dari ilmu yang bersangkutan. Kedua, meningkatkan penelitian praktis untuk kepentingan kehidupan dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia umumnya (Sumaatmadja, 1988: 41).

Ruang lingkup pengajaran geografi menurut Sumaatmadja (1997: 13). Sebagai berikut:

  1. Alam lingkungan yang menjadi sumber daya bagi kehidupan manusia.
  2. Penyebaran umat manusia dengan variasi kehidupannya.
  3. Interaksi keruangan umat manusia yang memberikan variasi terhadap cirri khas tempat-tempat dipermukaan bumi.
  4. Kesatuan regional yang merupakan perpaduan mata darat, perairan dan udara diatasnya.

Geografi sebagai mata pelajaran dari kurikulum di sekolah, dimaksudkan supaya penyebarluasan, pengetahuan, pemahaman konsep-konsep geografi.

  1. PEMBELAJARAN GEOGRAFI DALAM PENANAMAN NASIONALISME

Nasionalisme menurut Budianto (2006:30-34) adalah “Perasaan cinta atau banga terhadap tanah air dan bangsanya dengan tetap menghormati bangsa lain karena merasa bagian lain di dunia.”. Sedangkan Nasionalisme menurut Kohn (1961:11) adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Secara etimologis, kata nation berasal dari kata bahasa Latin natio,  yang berakar pada kata nascor ‘saya lahir’. Pada masa Kekaisaran Romawi, kata natio dipakai untuk mengolok-olok orang asing. Kemudian, pada masa Abad Pertengahan, kata nation digunakan sebagai nama kelompok pelajar asing di universitas-universitas. Selanjutnya, pada masa Revolusi Perancis, Parlemen Revolusi Prancis menyebut diri mereka sebagai assemblee nationale (Dewan Nasional) yang menunjuk kepada semua kelas yang memiliki hak sama dalam berpolitik. Akhirnya, kata nation menjadi seperti sekarang yang merujuk pada bangsa atau kelompok manusia yang menjadi penduduk resmi suatu negara (Amir, 2004).

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (1988:610):

“Nasionalime sebuah bentuk kesadaran keanggotaan di suatu bangsa yang secara potensial dan actual secara bersama-sama mencapai mempertahankan dan mengabdikan identitas, kemakmuran, kekuatan bangsa. Didalam jiwa nasionalisme tertanam sebuah keinginan untuk membangun suatu Negara sesuai cita-cita, harapan, dan kemapuan bangsa itu sendiri”

Dengan demikian rasa atau sikap nasionalisme dibutuhkan oleh setiap warga Negara dalam membangun negaranya, mempertahankan keutuhan negaranya dan menjaga kedaulatan negaranya. Sikap mencintai tanah air harus ditananm sejak dini, ini bertujuan untuk memelihara dan mempertahankan bangsa dengan mengetahui sejarah bangsa dan memiliki wawasan nusantara, sebagai modal mengembangkan potensi tersebut.

  1. PENUTUP

Pembelajaran Geografi sangat berperan dan mempunyai kontribusi dalam memupuk  rasa cinta tanah air atau nasionalisme karena, Maryani (2009:4) mengatakan ”..pengenalan berbagai informasi tempat tinggal umat manusia baik secara global ataupun nasional diperoleh melalui geografi. Cinta tanah air (nasionalisme), rasa persatuan dan kesatuan akan berkembang setelah siswa memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai potensi dan masalah negaranya”

Menurut pendapat tersebut bahwa pembelajaran geografi memberikan kontribusi yaitu pengetahuan dan pemahaman tentang potensi keadaan Indonesia baik secara nasional ataupun didunia pada umumnya. Untuk nilai-nilai nasionalisme itu akan tumbuh seiring dengan pembelajaran geografi itu dilaksanakan di setiap jenjang pendidikan.

Jika Ingin mendownloadnya klik link dibawah ini;

KONTRIBUSI PENDIDIKAN GEOGRAFI

Categories: Pendidikan | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “KONTRIBUSI PEMBALAJARAN GEOGRAFI TERHADAP NASIONALISME

  1. ayuditakarinda

    boleh saya tahu itu makalah yg ditulis oleh Bapa Hendro Murtianto pada tahun berapa? terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: